Diposting oleh
KOMUNLIS
HANYALAH SEBUAH BARIS SEDERHANA
tulisan kawan Yudi Susanto mengenai Pengajian Sastra I KOMUNLIS di area Probolinggo...
Matahari sudah mulai beranjak dari jalannya, setapak demi setapak yang
telah digariskan Tuhan. Tanda senja mulai mempertontonkan pengaruhnya
pada alam, hari ini Minggu, hari yang menurut sebagian orang adalah hari
kita membunuh waktu dengan tidak melakukan apapun.
Ya, tidak
apapun, karena budaya masyarakat kita adalah masyarakat pekerja,
menghabiskan hari liburnya kebanyakan dengan bersantai, entah menikmati
jingganya senja di tepi laut, ataupun mencari-cari channel TV minggu
mengisi liburannya. Bahkan ada yang tamasya untuk sekedar melepas penat
setelah semingguan penuh bekerja.
Tapi kami tidak, bagi kami sebagai pecinta Literasi (dunia tulis
menulis katanya), kami tak melakukan apa yang pada umumnya orang lakukan
di hari minggu. Kami bersuara, kami bergerak dalam jalur yang kami
sukai, yaitu ber-sastra. Dunia yang penuh imajinasi, dunia impian tapi
kami bukanlah pemimpi yang tak melakukan apapun yang menjadi impian
kami.
Dan dalam baris-baris yang sederhana, menjelang senja
hingga temaram telah menyelimuti kota kami, pada kata yang terkadang tak
sempat kami tuliskan, kami berkumpul, berdiskusi dan saling curhat –
meminjam istilah keren ABG – bersama dalam pengajian sastra KOMUNLIS,
yang perdana di wilayah Probolinggo kami adakan.
Mulai dari
Mbakyu Yoen Wahyudi membacakan puisinya, yang kebetulan duet puisi
dengan saya yang dilakukan tak sengaja di postingan akun media
sosialnya, Bung Stebby yang membacakan puisinya sendiri, hingga Mrs.
Nobhi yang juga membacakan karyanya yang mengambil tema “Rumah Tangga”.
Selain ada anggota baru yang secara Offline datang, yaitu mas Harry,
tapi bukan Harry Potter, kami semua saling share tentang dunia
tulis-menulis. Mulai cara mencari dan menuangkan ide hingga ditulis
dalam bentuk puisi, cara menulis cerpen yang baik, hingga hal-hal yang
menjadi kendala dalam dunia tulis-menulis.
Memang, ini hanyalah
sebuah baris-baris sederhana, sesuai dengan angan kami yang sederhana,
cita kami yang sederhana, pun dengan dana yang sederhana. Karena
kesederhanaan takkan menjadi penghalang untuk menjadi yang terbaik. Dan
bukan karena sederhana, dunia literasi ini takkan berkembang hanya
karena kesederhanaan fasilitas.
Akhir kata, walaupun sebuah
baris-baris sederhana, mari kita galakkan, dunia yang dianggap remeh
temeh oleh sebagian orang, dunia yang takkan mengubah apapun. Tapi kami
yakin, hanyalah dengan baris-baris sederhana, padanya kita bisa
berbicara, dan padanya bisa kita bersuara, untuk didengar dan dipikirkan
kembali oleh sebagian orang. Dan pada baris sederhana itulah, kita
mulai bergerak dan bersama-sama mengenalkan pada dunia.
Probolinggo, 22 September 2013 (Untuk Sahabat-Sahabatku di Komunlis)
Matahari sudah mulai beranjak dari jalannya, setapak demi setapak yang telah digariskan Tuhan. Tanda senja mulai mempertontonkan pengaruhnya pada alam, hari ini Minggu, hari yang menurut sebagian orang adalah hari kita membunuh waktu dengan tidak melakukan apapun.
Ya, tidak apapun, karena budaya masyarakat kita adalah masyarakat pekerja, menghabiskan hari liburnya kebanyakan dengan bersantai, entah menikmati jingganya senja di tepi laut, ataupun mencari-cari channel TV minggu mengisi liburannya. Bahkan ada yang tamasya untuk sekedar melepas penat setelah semingguan penuh bekerja.
Tapi kami tidak, bagi kami sebagai pecinta Literasi (dunia tulis menulis katanya), kami tak melakukan apa yang pada umumnya orang lakukan di hari minggu. Kami bersuara, kami bergerak dalam jalur yang kami sukai, yaitu ber-sastra. Dunia yang penuh imajinasi, dunia impian tapi kami bukanlah pemimpi yang tak melakukan apapun yang menjadi impian kami.
Dan dalam baris-baris yang sederhana, menjelang senja hingga temaram telah menyelimuti kota kami, pada kata yang terkadang tak sempat kami tuliskan, kami berkumpul, berdiskusi dan saling curhat – meminjam istilah keren ABG – bersama dalam pengajian sastra KOMUNLIS, yang perdana di wilayah Probolinggo kami adakan.
Mulai dari Mbakyu Yoen Wahyudi membacakan puisinya, yang kebetulan duet puisi dengan saya yang dilakukan tak sengaja di postingan akun media sosialnya, Bung Stebby yang membacakan puisinya sendiri, hingga Mrs. Nobhi yang juga membacakan karyanya yang mengambil tema “Rumah Tangga”.
Selain ada anggota baru yang secara Offline datang, yaitu mas Harry, tapi bukan Harry Potter, kami semua saling share tentang dunia tulis-menulis. Mulai cara mencari dan menuangkan ide hingga ditulis dalam bentuk puisi, cara menulis cerpen yang baik, hingga hal-hal yang menjadi kendala dalam dunia tulis-menulis.
Memang, ini hanyalah sebuah baris-baris sederhana, sesuai dengan angan kami yang sederhana, cita kami yang sederhana, pun dengan dana yang sederhana. Karena kesederhanaan takkan menjadi penghalang untuk menjadi yang terbaik. Dan bukan karena sederhana, dunia literasi ini takkan berkembang hanya karena kesederhanaan fasilitas.
Akhir kata, walaupun sebuah baris-baris sederhana, mari kita galakkan, dunia yang dianggap remeh temeh oleh sebagian orang, dunia yang takkan mengubah apapun. Tapi kami yakin, hanyalah dengan baris-baris sederhana, padanya kita bisa berbicara, dan padanya bisa kita bersuara, untuk didengar dan dipikirkan kembali oleh sebagian orang. Dan pada baris sederhana itulah, kita mulai bergerak dan bersama-sama mengenalkan pada dunia.
Probolinggo, 22 September 2013 (Untuk Sahabat-Sahabatku di Komunlis)

looohh...background nya sama dengan punyaku...hehehe...jodoh kita...ama KOMUNLIS...
BalasHapus#komen beda topik