SAMPAI KETEMU DENGAN KARYA FANTASI....!!!
Probolinggo, 5 Oktober 2013.....
Dengan format kunjugan media ke kantor Kabar Probolinggo, Pengajian Sastra Episode
2 untuk wilayah Probolinggo kerberlangsung meriah. Pengajian kali ini menjadi lebih
spesial karena tetemans KOMUNLIS yang ada di Pasuruan juga menyempatkan diri bertandang
ke Probolinggo. Belum lagi... karena kali ini kita kan sudah punya baju
kebesaran. Yippieee... jadi bisa pamer–pamer deh. Hehehe.
Dalam pertemuan kedua ini, masing-masing anggota KOMUNLIS
tampak lebih siap dalam membacakan karya. Memang masih belepotan sih, tapi tak
mengapa, namannya juga kami masih belajar. Tak ada yang salah dalam proses berkarya, yang
salah adalah mereka yang tak pernah menghargai proses.
Saya sendiri di kesempatan kali ini tidak membacakan karya,
tapi lebih ke sharing bacaan saya. Tentang buku yang sedang saya baca. Buku
berjudul Guru Gokil Murid Unyu karya J. Sumardianta.
Sedikit mundur ke belakang, perkenalan saya dengan (karya) beliau
adalah ketika karya kami diporses di penerbit yang sama, Bayumedia Publishing.
Saat naskah saya (Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali, pen.) masih
dalam proses editing, Mas Gideon Soerja memberi saya buku Tapal Batas, buku karya
anak-anak SMA Don Bosco Yogyakarta dimana Bapak J. Sumardianta menjadi editornya.
Sesampai di rumah saya langsung membaca habis buku itu. Dan dasyat.
Betapa pendidikan yang ditanamkan dengan cara-cara yang humanis mampu menyentuh
relung-relung pemikiran dan hati siswa (atau peserta didik) dibandingkan
kesadaran yang ditanamkan dengan kekerasan ala-ala siswa STPDN. Salut!
Nah, beberapa hari yang lalu, saya lupa kapan tepatnya, ketika
saya jalan-jalan ke toko buku Togamas, saya menemukan lagi buku karya beliau
yang lainnya. Karena sudah yakin bahwasannya karya-karya Pak Sumadinata ini
pasti bagus, maka segera saya bayar buku tersebut di kasir.
Dan memang begitulah kenyataannya. Buku Guru Gokil Murid
Unyu ini sungguh luar biasa dan penuh inspirasi. Maka jangan salah ketika
akhir-akhir ini status FB saya langsung banyak kata-kata motivasi bertebaran,
ya karena kata-kata tersebut saya comot dari buku ini. Tentu saja tanpa
menegasikan pemiliknya. Saya tulis dengan lengkap darimana sumbernya. Dari
tokoh siapa quote itu berasal.
Well, kembali ke soal Pengajian Sastra, setelah melakukan
pembacaan karya, tibalah kita pada saatnya bantai-bantaian. Hahai. J Adu argumen soal Sofa
Merah, sebagai proyek kita selanjutnya. Sungguh, ini sebuah proses yang
mencerahkan. Bergesek dan memercik. Sungguh luar biasa. Saya berterima kasih
tentunya karena diberi dan diberkahi dengan teman-teman yang luar biasa
semangat, kreatifitas serta ide-idenya, seperti mereka di KOMUNLIS ini.
Terus... mmmmm.... seksi berikutnya adalah foto-foto.
Pengambilan gambar untuk kebutuhan media. Mulailah semua bergaya. Dengan motto Narcis
is Exist, wajah kami yang itu-itu saja dan jauh di bawah standar ini mulai
menebarkan sengir kudanya di depan kamera. Ciizzzzzz.... begitulah gayanya. Hahahahahahahaaaaaaa.... LOL.
Next, kembali kita ke dalam ruang pertemuan. Selepas ishoma,
Rifqi menerangkan kepada kami semua bagaimana cara kerja media. Bagaimana
sebuah berita diproses sampai bisa tersaji di kesetiap pagi di hadapan kami
sebagai teman sarapan atau minum kopi.
Olala.... ternyata di kantor surat kabar itu nggak ada
percetakannya toh? J
Sesi terakhir adalah penentuan ide. Maksudnya apa yang akan
kita bahas atau kita persiapkan untuk pertemuan di bulan berikutnya. Selaku
yang ketiban pulung, Mbak Yeti mengambil inisiatif kalau di pertemuan bulan
depan kita akan membahas mengenai karya fantasi.
Oke. Selesai. Selamat berburu cerita-cerita fantasi,
tetemans.....!!! Sampai jumpa bulan depan.
Salam Literasi.

Komentar
Posting Komentar