RAWE-RAWE RANTAS MALANG-MALANG PUTUNG


(oleh kawan Stebby Julionatan mengenai Pengajian Sastra I KOMUNLIS area Probolinggo Raya)


Meski badan dah capek semua tapi konsekuensi untuk merampungkan sebuah tulisan mengenai pertemuan KOMUNLIS sore ini merupakan sebuah kewajiban yang tak dapat ditawar. Sama seperti semangat kami untuk menggerakkan budaya literasi di Tanah Air tercinta ini, meski berbekal amunisi seadanya --masih 6 orang yang bisa hadir di agenda Pengajian Sastra KOMUNLIS area Probolinggo hari ini (23/9), kami nekat untuk terus bergerak.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Mungkin seperti itulah gambaran semangat kami jika kami ditakdirkan masih tinggal di masa perjuangan ’45 dulu. Bagaimana tidak, seharian penuh kami (Mas Arik, Shenobi dan aku) alengleng ke Madakaripura, tapi masih saja dan memang harus konsekuen untuk menggelar pertemuan tersebut hari ini. Tak bias ditawar. Kami tidak ingin mengecewakan teman-teman yang lain, yang sudah dengan semangatnya meluankan waktu, tenaga, biaya dan perhatiannya untuk gerakan ini. Pun demikian dengan Mbak Lilik yang sepulangnya berpetualang ke Lumajang masih saja, sempat-sempatnya datang ke acara KOMUNLIS, malah membawakan kami satu kresek besar  buah manicu sebagai oleh-oleh. Minak Yoen dan Yudi yang dating awal pun juga tak kalah semangatnya. Keduanya tampak “mesrah”, bahu-membahu mengerjakan pengadministrasian untuk buku-buku perpustakaan KOMUNLIS. Padahal Minak Yoen harus pandai-pandai membagi waktu dengan agendanya yang lain di geraja. Tapi semangatnya itu lho… LUAR BIASA!


Wajah baru di antara kami adalah Hari. Nama lengkapnya Setiawan Hari. Dia juniorku di Paguyuban Kang dan Yuk Kota Probolinggo, Kang Persahabatan 2007, yang ternyata menyukai dunia menulis juga.

Tetemans… sesuai kesepakatan dan prinsip dasar kami, yang sudah kami tulis dalam kitab suci kami, kami menganut prinsip bahwa berapapun jumlah peserta yang hadir, itu tidaklah menjadi kendal. Dan acara tetap dimulai. Sebab sejak awal kami tidak melihat kepada kuantitas tapi kualitas dan semangat teman-teman dalam berliterasi.

Selaku Person In Charge (PIC) Pengajian Sastra, Yudi membuka acara dengan perkenalan dan sedikit sharing bagaimana dirinya mengenal KOMUNLIS. Lalu dilanjutkan dengan teman-teman yang lain, searah dengan jarum jam. Mbak Lilik, aku, Minak Yoen, Shenobi, Mas Arik dan terakhir hari. Masing-masing kami melakukan hal yang sama, bagaimana kami mengenal KOMUNLIS.
Meski sudah ada agenda, namun rupanya topic pembicaraan kami sore itu “sedikit” melebar jadi ajang curhat. Tapi tak mengapa, hitung-hitung kami belum pernah melakukannya in person. Yang penting materi yang sudah dipersiapkan oleh Yudi jauh-jauh hari, kesemuanya nyampe’ di benak masing-masing kami yang hadir.  

Intinya Pengajian sastra yang dihelat dari sore sampai betang ini berjalan dengan lancar. Minak Yoen dengan puisinya seputar mangga dan angin gending yang menyentuh… Mbak Lilik dengan berbagai kisahnya, Shenobi dengan teknik pembacaan puisinya yang selalu saja memukau, Mas Arik dengan berbagai wejangannya buat komunitas kita ke depannya, dan tentu saja sang masternya puisi, Yudi Susanto a.k.a Yudi Gopels dengan pembacaan karya Rendra yang membuat sudut-sudut hati kami terpukau.

Tepat pukul tujuh petang pertemuan tersebut kami akhiri. Tentunya dengan berbagai agenda dan PR yang sudah ditulis oleh Mbak Lilik. What’s next? Apa yang akan dan harus bisa kita lakukan ke depannya. Setelah sukses dengan Kembung dan Diksi, lalu apa lagi? Itulah yang menjadi PR kami bersama dalam memajukan budaya literasi Indonesia. Semoga.


Pekerjaan seorang penulis adalah menulis, perkara nantinya apakah ia akan jadi terkenal, bukunya best seller, dan kaya raya itu adalah bonus. Sama seperti seorang Andik Firmansyah (pesepak bola), setiap hari kerjanya adalah latihan berlari dan menendang bola. Perkara Andik sekarang adalah salah satu pesepak bola terbaik yang dimiliki oleh Indonesia, itu adalah BONUS.




Komentar

Postingan Populer