Menulis, Komunlis, Menulis
oleh : Yeti Kartikasari
Kaki Penanggungan, 15 Juli 2013, Dingin sepanjang hari
SERPIHAN
Sejak mengakrabi jejaring luar biasa berjuluk Facebook dan menemukan fasilitas notes untuk menulis, saya sumringah luar biasa. Awal-awal bercumbu dengan facebook, hampir tiap hari saya meninggalkan jejak di notes. Entah selarik puisi, curahan hari, apapun. Teringat, sahabat baik saya di Jogja, waktu itu kami sama-sama sekantor, Mita, yang berperan besar mengenalkan Facebook "terperangah" dengan kemampuan saya yang bisa memanfaatkan fasilitas fb dengan cepat dan pesat. Ahahaha.
Saya bukan gadget freak sebelum kenal fb. Saya hanya punya hp nokia jadul untuk telpon dan sms. Itu sudah cukup. Ketika tergila-gila dengan fb, saya kerap "ngenet" di warnet. Tentu saja jam beredar saya di dunia maya bertambah. Apalagi ketika itu, pekerjaan yang saya handle membutuhkan penggunaan internet. Klop.
Menikah membuat saya pelahan tapi pasti mengakrabi gadget. Ini tak lain karena suami up date gadget. Karena tahu, saya suka nulis, maka dibelikanlah saya modem dan laptop supaya makin rajin nulis dan ngenet. Beranjak, berikutnya, difasilitasi dengan gadget lain yang saya manfaatkan untuk online dan menulis. Plus jaringan internet yang koneksi 24 jam kapan pun saya mau.
Mudahnya menulis dengan teknologi membuat saya melahirkan satu catatan di salah satu media. Tulisan bertajuk pemanfaatan media untuk kepentingan literasi. Catatan itu terlahir karena keprihatinan saya pada user fb yang tidak memanfaatkan fasilitas fb dengan baik. Misalnya; Memposting tulisan tidak penting, gambar-gambar tidak pantas dan kenal-kenalan dengan teman yang tidak jelas. Sungguh fenomena mengggelisahkan.
Padahal kalau saja mau, facebook bisa digunakan untuk lebih dari itu. Jujur, melalui facebook saya mendapat beberapa side job yang menghasilkan uang, tawaran kerjaan dll. Makanya, ketika ada teman yang tanya, apakah saya bisa meninggalkan fb? Saya jawab, Saya TIDAK BISA TIDAK Fb-an Dan akan berhenti kalau fb sudah lenyap dari muka semesta.
KOMUNLIS
Lupa kapan tepatnya bersinggungan dengan grup yang sekilas bacanya Komunis. Ahahha. Tapi melalui kawan Stebby, saya mengakrabi grup menulis dan penulis ini. Bahkan "didaphuk" jadi salah satu admin. Salah satu pertimbangannya, karena saya rajin online. Qiqiqi,
Bergelut dengan Komunlis di sela kesibukan, sungguh menyenangkan, menggelisahkan, sekaligus mengairahkan. Hah! Apalagi ketika grup ini tidak hanya berisikan penulis-penulis amatiran seperti saya, tetapi ketika nama-nama senior dalam menulis hadir di sana.
Rasanya, tulisan saya sekian waktu lalu mengenai penggunaan facebook secara tepat laksana doa. Saya menemukan Komunlis untuk terus menyulit gairah menulis di jiwa saya.
Tadinya, kembali ke Pandaan memunculkan skeptis pada diri saya. Apa yang bisa saya lakukan di kota kecil yang tidak "ada seninya" sama sekali ini? Saya gagap budaya. Setelah sekian tahun meninggalkan Pandaan, tinggal di beberapa tempat yang lebih berharmoni, kembali ke Pandaan rasanya saya "mungsret" ke dasar bumi.
Saya tidak punya patner untuk hal-hal yang sukai sebelumnya. Saya suka nonton drama, jalan-jalan ke galeri lukisan, saya mencintai pentas sastra, entah puisi, teater dll. Di Pandaan? Kemana saya harus melabuhkan hal-hal semacam itu selain yang saya temui pabrik dan pabrik?
Membosankan!
Facebooklah pelarian saya, yang kemudian menautkan pada banyak nama teman baru, pada akhirnya kami jumpa di dunia nyata. Serta tentu saja komunitas ini.
Bersinergi dengan sejumlah nama, banyak ide bermunculan. Tentu saja tak jauh-jauh dari kegemaran kami. Ada yang harus kami tumbuhkan dan bangun berawal dari kota kami masing-masing.
Menggeliatkan literasi yang terasa utophis bagi kota kami.
Tapi apa yang tidak mungkin? Sekian perjalanan yang bagi saya masihlah pendek ini ternyata membawa pada semangat yang meletupkan embrio untuk mengawali bergerak.
Sejumlah program digagas melalui Komunlis. Puji Tuhan, semesta bergerak juga melahirkan pejuang-pejuang yang mengalirkan semangat, donasi dan segala macam support.
Tentu ini membahagiakan.
Facebook menjadi media, menjadi jembatan untuk bertaut. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan.
Program-program yang digulirkan mulai mendapat sambutan. Satu persatu kawan datang untuk bergabung. Belajar bersama-sama. Tak peduli apa latar belakangnya. Saya yakin, kami percaya, mereka punya semangat yang sama, menggaungkan budaya literasi sampai kemana-mana.
Teringat seorang sahabat, yang saya saya pernah curhat padanya, ketika saya gegar budaya, stuck. Dia bilang di tempat yang baru, kamu bisa terjun untuk melakukan sesuatu. Tak harus besar. Awali saja dari yang kamu bisa. Kelak, akan banyak patner untuk bergabung. Menjadi besar. Percayalah!
Ya, saya percaya tentang itu!
Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat-sahabat Komunlis, para murid saya di kelas menulis & jurnalistik, saya berhutang semangat, untuk sahabatku Ariana Mita (Bkk) dan Tomi W (Riau) yang sudah mengenalkanku pada fb sekian tahun lalu, serta pada siapapun yang mencintai literasi, tabikku selalu!



Kaki Penanggungan, 15 Juli 2013, Dingin sepanjang hari
SERPIHAN
Sejak mengakrabi jejaring luar biasa berjuluk Facebook dan menemukan fasilitas notes untuk menulis, saya sumringah luar biasa. Awal-awal bercumbu dengan facebook, hampir tiap hari saya meninggalkan jejak di notes. Entah selarik puisi, curahan hari, apapun. Teringat, sahabat baik saya di Jogja, waktu itu kami sama-sama sekantor, Mita, yang berperan besar mengenalkan Facebook "terperangah" dengan kemampuan saya yang bisa memanfaatkan fasilitas fb dengan cepat dan pesat. Ahahaha.
Saya bukan gadget freak sebelum kenal fb. Saya hanya punya hp nokia jadul untuk telpon dan sms. Itu sudah cukup. Ketika tergila-gila dengan fb, saya kerap "ngenet" di warnet. Tentu saja jam beredar saya di dunia maya bertambah. Apalagi ketika itu, pekerjaan yang saya handle membutuhkan penggunaan internet. Klop.
Menikah membuat saya pelahan tapi pasti mengakrabi gadget. Ini tak lain karena suami up date gadget. Karena tahu, saya suka nulis, maka dibelikanlah saya modem dan laptop supaya makin rajin nulis dan ngenet. Beranjak, berikutnya, difasilitasi dengan gadget lain yang saya manfaatkan untuk online dan menulis. Plus jaringan internet yang koneksi 24 jam kapan pun saya mau.
Mudahnya menulis dengan teknologi membuat saya melahirkan satu catatan di salah satu media. Tulisan bertajuk pemanfaatan media untuk kepentingan literasi. Catatan itu terlahir karena keprihatinan saya pada user fb yang tidak memanfaatkan fasilitas fb dengan baik. Misalnya; Memposting tulisan tidak penting, gambar-gambar tidak pantas dan kenal-kenalan dengan teman yang tidak jelas. Sungguh fenomena mengggelisahkan.
Padahal kalau saja mau, facebook bisa digunakan untuk lebih dari itu. Jujur, melalui facebook saya mendapat beberapa side job yang menghasilkan uang, tawaran kerjaan dll. Makanya, ketika ada teman yang tanya, apakah saya bisa meninggalkan fb? Saya jawab, Saya TIDAK BISA TIDAK Fb-an Dan akan berhenti kalau fb sudah lenyap dari muka semesta.
KOMUNLIS
Lupa kapan tepatnya bersinggungan dengan grup yang sekilas bacanya Komunis. Ahahha. Tapi melalui kawan Stebby, saya mengakrabi grup menulis dan penulis ini. Bahkan "didaphuk" jadi salah satu admin. Salah satu pertimbangannya, karena saya rajin online. Qiqiqi,
Bergelut dengan Komunlis di sela kesibukan, sungguh menyenangkan, menggelisahkan, sekaligus mengairahkan. Hah! Apalagi ketika grup ini tidak hanya berisikan penulis-penulis amatiran seperti saya, tetapi ketika nama-nama senior dalam menulis hadir di sana.
Rasanya, tulisan saya sekian waktu lalu mengenai penggunaan facebook secara tepat laksana doa. Saya menemukan Komunlis untuk terus menyulit gairah menulis di jiwa saya.
Tadinya, kembali ke Pandaan memunculkan skeptis pada diri saya. Apa yang bisa saya lakukan di kota kecil yang tidak "ada seninya" sama sekali ini? Saya gagap budaya. Setelah sekian tahun meninggalkan Pandaan, tinggal di beberapa tempat yang lebih berharmoni, kembali ke Pandaan rasanya saya "mungsret" ke dasar bumi.
Saya tidak punya patner untuk hal-hal yang sukai sebelumnya. Saya suka nonton drama, jalan-jalan ke galeri lukisan, saya mencintai pentas sastra, entah puisi, teater dll. Di Pandaan? Kemana saya harus melabuhkan hal-hal semacam itu selain yang saya temui pabrik dan pabrik?
Membosankan!
Facebooklah pelarian saya, yang kemudian menautkan pada banyak nama teman baru, pada akhirnya kami jumpa di dunia nyata. Serta tentu saja komunitas ini.
Bersinergi dengan sejumlah nama, banyak ide bermunculan. Tentu saja tak jauh-jauh dari kegemaran kami. Ada yang harus kami tumbuhkan dan bangun berawal dari kota kami masing-masing.
Menggeliatkan literasi yang terasa utophis bagi kota kami.
Tapi apa yang tidak mungkin? Sekian perjalanan yang bagi saya masihlah pendek ini ternyata membawa pada semangat yang meletupkan embrio untuk mengawali bergerak.
Sejumlah program digagas melalui Komunlis. Puji Tuhan, semesta bergerak juga melahirkan pejuang-pejuang yang mengalirkan semangat, donasi dan segala macam support.
Tentu ini membahagiakan.
Facebook menjadi media, menjadi jembatan untuk bertaut. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan.
Program-program yang digulirkan mulai mendapat sambutan. Satu persatu kawan datang untuk bergabung. Belajar bersama-sama. Tak peduli apa latar belakangnya. Saya yakin, kami percaya, mereka punya semangat yang sama, menggaungkan budaya literasi sampai kemana-mana.
Teringat seorang sahabat, yang saya saya pernah curhat padanya, ketika saya gegar budaya, stuck. Dia bilang di tempat yang baru, kamu bisa terjun untuk melakukan sesuatu. Tak harus besar. Awali saja dari yang kamu bisa. Kelak, akan banyak patner untuk bergabung. Menjadi besar. Percayalah!
Ya, saya percaya tentang itu!
Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat-sahabat Komunlis, para murid saya di kelas menulis & jurnalistik, saya berhutang semangat, untuk sahabatku Ariana Mita (Bkk) dan Tomi W (Riau) yang sudah mengenalkanku pada fb sekian tahun lalu, serta pada siapapun yang mencintai literasi, tabikku selalu!

Komunlis--



Komentar
Posting Komentar